UNAMIN Gelar Kajian AIK Kamis, 5 Maret 2026: Ikhlas dan Ittiba’ Jadi Fondasi Diterimanya Amal

SORONG — Rangkaian Kajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) Ramadhan 1447 H di Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN) kembali berlanjut pada Kamis, 5 Maret 2026, dengan pembahasan yang sangat fundamental: ikhlas dan ittiba’ sebagai dua syarat utama diterimanya amal. Kajian ini dipimpin langsung oleh Rektor UNAMIN, Dr. H. Muhammad Ali, MM., M.H., yang menyampaikan materi dengan pendekatan ilmiah, mendalam, dan menyentuh aspek spiritual peserta.

Dalam pemaparannya, beliau mengangkat penjelasan para ulama, termasuk Al-Fudhail bin ‘Iyad, yang menegaskan bahwa amal tidak akan diterima kecuali memenuhi dua pilar utama: ikhlas karena Allah dan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Peserta juga diajak menelaah tanda-tanda diterimanya amal menurut Imam Ibnul Qayyim, seperti rasa rendah hati terhadap amal yang dilakukan serta kebiasaan beristighfar setelah ibadah.

Hadits tentang keteladanan Rasulullah yang tetap bersungguh-sungguh dalam ibadah meski telah diampuni dosanya menjadi pengingat kuat bahwa syukur sejati diwujudkan melalui ketaatan yang konsisten.

Sebagai penguat spiritual, Rektor turut membacakan doa agung dari Al-Qur’an, permohonan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail agar amal diterima oleh Allah:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)

Setelah itu, beliau menambahkan doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca seorang Muslim dalam memohon keberkahan ilmu, rezeki, dan amal:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang Engkau terima.”

Doa ini menjadi penutup yang penuh kekhusyukan, mengingatkan seluruh peserta bahwa sebesar apa pun amal yang dilakukan, penerimaan dari Allah adalah tujuan tertinggi.

Sebagai Moderator, Akmal Ridwan, S.M., MM menyampaikan bahwa materi ini sangat penting bagi seluruh unsur kampus. “Ikhlas dan ittiba’ adalah ruh dari setiap amal. Tanpa keduanya, ibadah hanya menjadi aktivitas tanpa nilai di sisi Allah,” ujarnya. Kegiatan dimulai dengan pelaksanaan salat dhuhur berjamaah, membaca Alquran suart almu’minun ayat 21 sampi 30, Kemudian dilanjutkan pemaparan materi.

Kajian hari Kamis ini memperkaya pemahaman sivitas akademika tentang bagaimana membangun kualitas ibadah yang benar, mendalam, dan diterima oleh Allah. Suasana masjid yang tenang dan penuh perhatian menunjukkan bahwa program ini benar-benar menjadi oase spiritual di tengah aktivitas kampus.

Selain itu, Rektor juga mengingatkan kepada seluruh sivitas akademika agar senantiasa Ikhlas dan Ittiba dalam melaksanakan ibadah baik ibadah mahdhah  maupun Goiru mahdhah.

Dokumentasi Kegiatan