UNAMIN Sorong Kirim Dua Instruktur Ikuti Pelatihan Instruktur Nasional Regional Indonesia Timur

Makassar, 29 September 2026 — Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN) melalui penguatan peran Lembaga Pengembangan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPAIK) mengirimkan dua instruktur untuk mengikuti Pelatihan Instruktur Nasional (PINAS) Regional Indonesia Timur yang dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Makassar, Sulawesi Selatan, 25–29 September 2026.

Dua utusan UNAMIN Sorong yang mengikuti kegiatan tersebut adalah Dr. Arie Anang Setyo, M.Pd. dan Imran, S.Pi. Keduanya merupakan instruktur yang mendapat mandat dari Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Papua Barat Daya untuk menjadi peserta aktif PINAS Regional Indonesia Timur.

Keikutsertaan dua instruktur UNAMIN tersebut menjadi bagian dari komitmen universitas untuk terus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam bidang AIK, dakwah, perkaderan, kepemimpinan, dan pengembangan instruktur Muhammadiyah.

Prof. Ahmad Muttaqin: PTMA Menghadapi Tantangan Era AI dan Krisis Makna

Salah satu materi strategis dalam kegiatan PINAS disampaikan oleh Prof. H. Ahmad Muttaqin, S.Ag., M.Ag., M.A., Ph.D., Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Dalam paparannya, Prof. Ahmad Muttaqin mengajak peserta membaca perubahan peradaban yang sedang berlangsung secara lebih kritis, terutama berkaitan dengan perkembangan Artificial Intelligence (AI), transformasi digital, perubahan demografi, disinformasi, globalisasi ide, serta perubahan pola kehidupan manusia.

Salah satu gagasan utama yang ditampilkan adalah “Krisis Makna & Kebenaran”. Perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial menghadirkan peluang besar bagi manusia, tetapi pada saat yang sama memunculkan pertanyaan mendasar: bagaimana manusia mempertahankan makna, nilai, kebenaran, dan nalar ketika teknologi dan algoritma semakin mengambil bagian dalam kehidupan manusia?

Materi tersebut juga menampilkan sejumlah gagasan dari Toby Walsh, David P. Goldman, dan Hamish McRae sebagai bagian dari perspektif dalam membaca masa depan AI, perubahan demografi, disinformasi, serta kebutuhan terhadap institusi yang dipercaya.

Pesan penting dari materi tersebut adalah bahwa masa depan tidak cukup dihadapi dengan kemampuan menguasai teknologi. Manusia juga dituntut memiliki kemampuan untuk memaknai perubahan, mempertahankan nilai, membangun kepercayaan, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

PTMA Bukan Sekadar Kampus, tetapi Basis Dakwah dan Kaderisasi

Dalam materi yang sama, Prof. Ahmad Muttaqin juga mengangkat posisi strategis Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) dalam kehidupan Persyarikatan.

Pada salah satu slide ditampilkan ketentuan mengenai tugas BPH PTM yang antara lain berkaitan dengan pembinaan dan pengembangan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di PTM. Materi juga menampilkan tugas Rektor/Ketua/Direktur untuk membina dan menyelenggarakan dakwah dan kaderisasi Muhammadiyah.

Pesan tersebut memberikan penegasan bahwa PTMA memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada sekadar penyelenggaraan pendidikan tinggi. PTMA juga merupakan ruang strategis untuk dakwah, pembentukan karakter, pembinaan AIK, dan kaderisasi Muhammadiyah.

Dalam konteks ini, keberadaan LPAIK UNAMIN memiliki posisi strategis untuk menerjemahkan tanggung jawab tersebut ke dalam program nyata di lingkungan kampus.

721 Ribu Mahasiswa PTMA: Sebuah Potensi Besar Kaderisasi

Salah satu data yang ditampilkan dalam materi adalah potensi PTMA per September 2026 yang mencapai sekitar 721.053 mahasiswa, 20.911 dosen, dan 2.527 program studi.

Data tersebut kemudian diarahkan pada sebuah pertanyaan reflektif: “Berapa kader?”

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena besarnya jumlah mahasiswa dan sivitas akademika PTMA belum dengan sendirinya menjawab kebutuhan kaderisasi. Tantangan berikutnya adalah bagaimana ekosistem pendidikan tinggi Muhammadiyah mampu mengembangkan potensi tersebut menjadi sumber daya manusia yang memiliki kompetensi akademik, karakter, kepemimpinan, ideologi, dan komitmen terhadap dakwah Persyarikatan.

Bagi UNAMIN Sorong, refleksi ini menjadi semakin relevan dalam konteks pengembangan kader Muhammadiyah di Papua Barat Daya.

Amanah PTMA: Jangan Kehilangan Orientasi Dakwah dan Kaderisasi

Materi Prof. Ahmad Muttaqin juga menghadirkan refleksi kritis mengenai fenomena yang disebut dalam slide sebagai “para pendusta Muhammadiyah”.

Pesan yang disampaikan mengarah pada pentingnya menjaga amanah pengelolaan PTMA agar tidak berhenti pada aspek administratif dan akademik semata, tetapi juga mampu memanfaatkan keberadaan perguruan tinggi untuk ibadah, dakwah, pembinaan kader, dan penguatan Persyarikatan.

Dengan demikian, pimpinan PTMA, dosen, instruktur, dan seluruh unsur perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk membangun keseimbangan antara keunggulan akademik, pengembangan ilmu pengetahuan, AIK, dakwah, dan kaderisasi.

PINAS Menjadi Ruang Penguatan Kompetensi Instruktur UNAMIN

Bagi dua utusan UNAMIN Sorong, Dr. Arie Anang Setyo, M.Pd. dan Imran, S.Pi., keikutsertaan dalam PINAS tidak hanya menjadi kesempatan untuk memperoleh wawasan baru, tetapi juga menjadi bagian dari proses penguatan kompetensi sebagai instruktur Muhammadiyah.

Pengalaman dan materi yang diperoleh selama kegiatan diharapkan dapat dibawa kembali ke Sorong untuk memperkuat program LPAIK UNAMIN, dan MPKSDI Pimpinan Wilayah Papua Barat Daya terutama dalam bidang:

  • pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan;
  • kaderisasi mahasiswa;
  • penguatan kompetensi instruktur;
  • dakwah kampus;
  • Baitul Arqam dan pembinaan kader;
  • pengembangan metode perkaderan yang kontekstual;
  • serta respons AIK terhadap perkembangan kecerdasan artifisial dan perubahan generasi.

Dengan demikian, PINAS tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan, tetapi menjadi sumber pembelajaran yang dapat ditransformasikan menjadi gerakan dan program nyata di lingkungan UNAMIN.

Menyiapkan Kader Muhammadiyah di Tengah Perubahan Zaman

Perkembangan AI membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, pekerjaan, komunikasi, dan kehidupan sosial. Karena itu, kader Muhammadiyah masa depan tidak cukup hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga perlu memiliki nalar kritis, integritas, kemampuan memaknai perubahan, kemampuan beradaptasi, serta landasan nilai yang kuat.

Di sinilah AIK dan kaderisasi memiliki peran penting.

Kader yang dibutuhkan bukan hanya kader yang mampu menggunakan teknologi, tetapi kader yang mampu mengarahkan teknologi untuk kemaslahatan manusia. Bukan sekadar kader yang memahami perubahan, tetapi kader yang mampu memberikan makna dan arah terhadap perubahan tersebut.

Keikutsertaan Dr. Arie Anang Setyo, M.Pd. dan Imran, S.Pi. dalam PINAS Regional Indonesia Timur menjadi bagian dari ikhtiar UNAMIN Sorong untuk terus memperkuat kapasitas instruktur sekaligus membangun ekosistem AIK, dakwah, dan kaderisasi yang relevan dengan tantangan zaman.

LPAIK UNAMIN Sorong berkomitmen menjadikan AIK bukan sekadar pengetahuan, tetapi sebagai nilai yang hidup, budaya kampus, energi dakwah, dan fondasi pembentukan kader Muhammadiyah yang berkemajuan.

“Teknologi boleh semakin cerdas, tetapi manusia tetap membutuhkan nilai, makna, dan kebenaran. Di situlah AIK dan kaderisasi Muhammadiyah menemukan relevansinya.”

UNAMIN Sorong — Menguatkan AIK, Menyiapkan Kader, Mencerahkan Masa Depan.

Makassar, 29 September 2026 — Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN) melalui penguatan peran Lembaga Pengembangan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPAIK) mengirimkan dua orang instruktur untuk mengikuti Pelatihan Instruktur Nasional (PINAS) Regional Indonesia Timur yang dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Makassar, Sulawesi Selatan, pada 25–29 September 2026.

Dua perwakilan UNAMIN Sorong yang mengikuti kegiatan tersebut adalah Dr. Arie Anang Setyo, M.Pd. dan Imran, S.Pi. Keduanya merupakan bagian dari peserta yang memperoleh mandat dari Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Papua Barat Daya dan Penugasan Dari Wakil Rektor II UNAMIN Sorong untuk mengikuti PINAS Regional Indonesia Timur.

Keikutsertaan dua instruktur UNAMIN tersebut menjadi bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia, khususnya dalam bidang perkaderan, dakwah, serta pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).

Menguatkan Kompetensi Instruktur di Era Perubahan

PINAS Regional Indonesia Timur menjadi ruang pembelajaran dan penguatan kapasitas bagi para instruktur Muhammadiyah dalam menghadapi berbagai perubahan sosial dan perkembangan peradaban.

Salah satu materi yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut mengangkat tema “Krisis Makna & Kebenaran”. Materi tersebut mengajak peserta merefleksikan berbagai tantangan yang muncul akibat perkembangan Artificial Intelligence (AI), otomatisasi, perubahan demografi, disinformasi, dan globalisasi ide.

Pesan penting yang muncul dari pembahasan tersebut adalah bahwa perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan kemampuan manusia dalam mempertahankan makna, nilai, kebenaran, nalar kritis, dan kemanusiaan.

Dalam konteks perkaderan Muhammadiyah, tantangan tersebut menuntut hadirnya instruktur yang tidak hanya menguasai materi perkaderan, tetapi juga mampu membaca perubahan zaman dan membangun kemampuan kader untuk merespons persoalan kehidupan secara kritis, beretika, dan berorientasi pada kemajuan.

PTMA sebagai Basis Dakwah dan Kaderisasi

Dalam salah satu materi PINAS juga ditegaskan posisi strategis Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) dalam pengembangan dakwah dan kaderisasi.

Salah satu paparan mengenai tugas dan tanggung jawab pimpinan PTMA menekankan pentingnya pembinaan dan pengembangan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di perguruan tinggi, serta pembinaan dan penyelenggaraan dakwah dan kaderisasi Muhammadiyah.

Hal tersebut sejalan dengan peran LPAIK UNAMIN dalam mengembangkan sistem pembinaan AIK yang tidak hanya berorientasi pada aspek pengetahuan, tetapi juga membangun karakter, budaya kampus, kepemimpinan, dan keterlibatan sivitas akademika dalam kehidupan persyarikatan.

Potensi Besar PTMA untuk Kaderisasi

Dalam kegiatan tersebut juga dipaparkan data potensi PTMA per September 2026 yang menunjukkan jumlah sekitar 721.053 mahasiswa, 20.911 dosen, dan 2.527 program studi.

Data tersebut menggambarkan besarnya potensi ekosistem PTMA dalam mendukung dakwah dan kaderisasi Muhammadiyah. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi kader yang memiliki kompetensi keilmuan, karakter, kepemimpinan, kemampuan berpikir kritis, dan komitmen terhadap nilai-nilai Muhammadiyah.

Bagi UNAMIN Sorong, penguatan kapasitas instruktur menjadi semakin penting untuk mendukung pengembangan kader di lingkungan perguruan tinggi dan Persyarikatan Muhammadiyah, khususnya di wilayah Papua Barat Daya.

Membawa Semangat PINAS ke UNAMIN Sorong

Keikutsertaan Dr. Arie Anang Setyo, M.Pd. dan Imran, S.Pi. diharapkan tidak berhenti pada pengalaman individual, tetapi dapat dilanjutkan melalui diseminasi dan transfer pengetahuan kepada pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta kader Muhammadiyah di lingkungan UNAMIN.

Hasil pembelajaran selama PINAS dapat menjadi bahan untuk memperkuat berbagai program LPAIK, terutama dalam pengembangan perkaderan, dakwah kampus, pembinaan AIK, penguatan instruktur, dan inovasi metode kaderisasi yang sesuai dengan karakteristik generasi muda.

Di tengah perkembangan teknologi dan hadirnya kecerdasan artifisial, kaderisasi Muhammadiyah perlu terus bergerak dari sekadar transfer pengetahuan menuju proses pembentukan manusia yang mampu berpikir, memaknai, berkolaborasi, mengambil keputusan secara bertanggung jawab, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

Dengan demikian, keikutsertaan dua instruktur UNAMIN Sorong dalam PINAS Regional Indonesia Timur menjadi bagian dari ikhtiar untuk memperkuat AIK, kaderisasi, dan dakwah Muhammadiyah sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan masa depan.

UNAMIN Sorong — Menguatkan AIK, Membangun Kader, Mencerahkan Masa Depan.