
SORONG, 7 Oktober 2026 — Suasana teduh dan penuh khidmat menyelimuti Masjid Darul Ulum Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN SORONG) pada pelaksanaan Majelis Ilmu Ba’da Zuhur Series 7, Rabu (7/10). Kegiatan yang terbuka untuk umum ini menghadirkan Ust. Amiruddin Syam, M.H.H., Ketua BPH UNAMIN, sebagai pengisi kajian.
Majelis yang berlangsung pukul 12.30–13.45 WIT tersebut menjadi ruang bagi sivitas akademika dan masyarakat untuk berhenti sejenak dari aktivitas, mendekatkan diri kepada Allah SWT, serta memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur’an.
Diawali dengan Tilawah Surah Al-Baqarah Ayat 30–37
Kajian diawali dengan membaca bersama Surah Al-Baqarah ayat 30–37, yang dipandu oleh Ust. Amiruddin Syam. Setelah tilawah, jamaah diajak memahami makna ayat melalui penjelasan terjemahan dan tafsir.
Rangkaian ayat tersebut antara lain mengisahkan dialog Allah SWT dengan para malaikat ketika Allah hendak menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi, pengajaran Allah kepada Nabi Adam AS tentang nama-nama, perintah Allah kepada para malaikat untuk bersujud kepada Adam, hingga kisah Adam dan Hawa ketika tergelincir oleh godaan setan dan kemudian menerima ampunan Allah.
Dalam ayat 30, Allah menyampaikan rencana menjadikan khalifah di bumi, sementara ayat 31 menegaskan keistimewaan Adam dalam hal pengetahuan: “Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya.” Tafsir Ibn Kathir menjelaskan bahwa pengajaran tersebut menunjukkan keutamaan Adam dalam pengetahuan yang Allah berikan kepadanya.
Ayat 32 kemudian memberikan pelajaran penting tentang kerendahan hati dalam mencari ilmu. Para malaikat mengakui, “Kami tidak mempunyai pengetahuan selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.” Tafsir Ibn Kathir menekankan bahwa pengetahuan makhluk terbatas dan pada hakikatnya merupakan pemberian Allah SWT.
Dari rangkaian ayat tersebut, jamaah diajak melihat bahwa ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam, tetapi ilmu harus disertai kesadaran bahwa sumber segala ilmu adalah Allah SWT.
Tiga Dimensi Syafaat yang Disampaikan dalam Kajian
Salah satu bagian yang menarik perhatian jamaah adalah penjelasan Ust. Amiruddin Syam mengenai syafaat atau pertolongan pada hari akhir.
Dalam penjelasan tersebut, syafaat ditekankan bukan sebagai kekuatan yang berdiri sendiri, tetapi semuanya terjadi dengan izin Allah SWT. Al-Qur’an menegaskan bahwa tidak ada yang dapat memberikan syafaat di sisi Allah kecuali dengan izin-Nya (QS. Al-Baqarah: 255).
Pertama, syafaat Al-Qur’an bagi orang yang dekat dengannya.
Rasulullah SAW bersabda bahwa Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para sahabatnya, yaitu orang-orang yang senantiasa membaca dan berinteraksi dengannya. Secara khusus, Surah Al-Baqarah dan Ali ‘Imran disebut akan datang memberikan pembelaan bagi orang-orang yang membacanya. Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih Muslim 804a.
Pesan pentingnya adalah bahwa membaca Al-Qur’an tidak cukup hanya menjadi aktivitas lisan. Al-Qur’an perlu dibaca, dipahami, diamalkan, dan dijadikan pedoman kehidupan.
Kedua, syafaat Rasulullah SAW.
Ustadz menjelaskan tentang syafaat Rasulullah SAW pada hari kiamat. Dalam hadis sahih yang diriwayatkan Muslim, manusia akan mendatangi para nabi untuk memohon syafaat. Ketika sampai kepada Nabi Muhammad SAW, beliau kemudian memohon izin kepada Allah dan bersujud. Setelah Allah mengizinkan, Nabi SAW diberikan kesempatan untuk memohon dan memberikan syafaat. Dalam beberapa tahap, beliau memohon agar orang-orang beriman yang masih berada di dalam neraka dikeluarkan darinya sesuai dengan batas yang Allah tetapkan.
Penjelasan tersebut memberikan gambaran betapa besar kasih sayang Rasulullah SAW kepada umatnya, sekaligus menegaskan bahwa syafaat tetap berada di bawah kehendak dan izin Allah SWT.
Ketiga, doa orang-orang beriman bagi sesama orang beriman.
Pada bagian ini, penjelasan kajian dapat dipahami dalam kerangka bahwa orang-orang beriman saling mendoakan dan memohonkan ampun kepada Allah bagi saudara mereka. Al-Qur’an menggambarkan doa orang-orang beriman: “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami…” (QS. Al-Hasyr: 10).
Karena itu, lebih tepat dipahami bahwa syafaat dan pertolongan pada hari akhir semuanya kembali kepada izin dan rahmat Allah, sedangkan manusia dan amal saleh menjadi sebab yang Allah kehendaki.
Menggapai Surga Firdaus
Dalam kajian juga disampaikan pentingnya memiliki cita-cita spiritual yang tinggi, yakni memohon Surga Firdaus. Dalam hadis sahih, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya apabila memohon kepada Allah agar memohon Al-Firdaus, yang disebut sebagai bagian tertinggi dari surga.
Pesannya sederhana tetapi mendalam: seorang Muslim hendaknya tidak hanya berharap selamat, tetapi juga berusaha memperbaiki kualitas iman, ibadah, ilmu, dan amal agar dapat memperoleh kedudukan terbaik di sisi Allah SWT.
Salat Berjamaah: Menguatkan Hubungan dengan Allah dan Sesama
Ust. Amiruddin juga mengingatkan jamaah tentang pentingnya salat berjamaah, terutama dalam membangun kedisiplinan dan kebersamaan umat.
Rasulullah SAW bersabda bahwa salat berjamaah lebih utama 27 derajat dibandingkan salat sendirian. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
Pesan ini menjadi sangat relevan bagi sivitas akademika UNAMIN. Masjid bukan hanya tempat pelaksanaan ibadah, tetapi juga menjadi ruang membangun kebersamaan, silaturahmi, pembentukan karakter, dan penguatan budaya keislaman di lingkungan kampus.
Adam AS dan Kemuliaan Ilmu
Kembali kepada Surah Al-Baqarah ayat 30–37, Ust. Amiruddin memberikan penekanan khusus pada kisah Nabi Adam AS yang memperoleh pengajaran dari Allah SWT.
Ayat 31 menyebutkan bahwa Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama segala sesuatu. Tafsir Ibn Kathir menjelaskan bahwa pengajaran tersebut menjadi salah satu bentuk keutamaan Adam dalam ilmu dibandingkan makhluk lainnya.
Dari sini muncul pesan pendidikan yang sangat kuat: manusia memiliki kedudukan mulia karena ilmu, tetapi ilmu tersebut harus melahirkan ketundukan kepada Allah, bukan kesombongan.
Bahkan doa yang diajarkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW adalah:
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.”
(QS. Taha: 114)
Ulul Albab: Dzikir yang Melahirkan Fikir
Kajian kemudian mengarah pada karakter Ulul Albab, yaitu orang-orang yang memiliki kedalaman akal dan kesadaran spiritual.
Allah SWT berfirman dalam QS. Ali ‘Imran ayat 190–191 bahwa tanda-tanda kebesaran Allah terdapat pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang bagi Ulul Albab. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa mengingat Allah dalam berbagai keadaan dan memikirkan penciptaan langit dan bumi.
Dengan demikian, sebagaimana disampaikan dalam kajian, Ulul Albab tidak hanya banyak berdzikir, tetapi juga banyak berpikir.
Dzikir tanpa fikir dapat kehilangan kedalaman pemahaman, sedangkan fikir tanpa dzikir dapat kehilangan arah spiritual.
Keduanya perlu berjalan bersama.
Sementara itu, konsep Ulul Ilmi mengingatkan bahwa orang berilmu bukan sekadar orang yang mengetahui banyak hal, tetapi orang yang ilmunya menumbuhkan keteguhan dalam menjalankan agama, kerendahan hati, dan tanggung jawab moral.
Membaca Sejarah Umat dengan Bijak
Pada bagian akhir kajian, Ust. Amiruddin juga menyampaikan materi mengenai fase-fase perjalanan kepemimpinan umat Islam, yang merujuk pada sebuah riwayat tentang tahapan nubuwwah, khilafah ‘ala minhajin nubuwwah, mulkan ‘adhdhā, mulkan jabbariyyah, dan kemudian khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Riwayat tersebut dinukil antara lain dalam Musnad Ahmad dan sejumlah karya hadis lainnya.
Dalam konteks pemberitaan kegiatan ini, materi tersebut dipahami sebagai paparan keagamaan mengenai salah satu riwayat tentang fase kepemimpinan umat, bukan sebagai penetapan tunggal mengenai pembacaan sejarah politik Islam. Status dan pemaknaan riwayat tersebut juga menjadi pembahasan di kalangan ulama, sehingga diperlukan kehati-hatian ketika menghubungkannya dengan kondisi politik kontemporer.
Ilmu yang Menghidupkan Iman
Majelis Ilmu Ba’da Zuhur Series 7 pada akhirnya tidak sekadar menjadi forum kajian ayat Al-Qur’an. Pertemuan ini menghadirkan pesan yang lebih luas: membangun manusia yang berilmu, rajin berdzikir, kritis dalam berpikir, tekun beribadah, dan peduli terhadap sesama.
Surah Al-Baqarah ayat 30–37 memberikan gambaran bahwa manusia memiliki amanah sebagai khalifah, dibekali kemampuan untuk belajar, tetapi sekaligus memiliki kelemahan dan dapat tergelincir. Kisah Adam AS juga memperlihatkan bahwa ketika manusia melakukan kesalahan, jalan kembali kepada Allah tetap terbuka melalui taubat. Ayat 37 menegaskan bahwa Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, kemudian Allah menerima taubatnya.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi kehidupan sivitas akademika: ilmu harus melahirkan kesadaran, kesadaran melahirkan amal, dan amal harus diarahkan untuk memperoleh ridha Allah SWT.
Majelis Ilmu Ba’da Zuhur Series 7 di Masjid Darul Ulum UNAMIN pun menjadi pengingat bahwa tradisi keilmuan di kampus Muhammadiyah tidak berhenti di ruang kelas. Masjid menjadi ruang bertemunya ilmu, iman, dzikir, fikir, dan kebersamaan.
“Mari terus membaca Al-Qur’an, memahami maknanya, memperbanyak dzikir, memperdalam fikir, menjaga salat berjamaah, dan menjadikan ilmu sebagai jalan mendekat kepada Allah SWT.”
Majelis Ilmu Ba’da Zuhur Series 7
📍 Masjid Darul Ulum UNAMIN
🗓️ Setiap Rabu
⏰ 12.30–13.45 WIT
🎙️ Ust. Amiruddin Syam, M.H.H. — Ketua BPH UNAMIN
👥 Terbuka untuk umum

Red.Arie.