KAJIAN AIK UNAMIN SORONG: KETUA BPH AJAK DOSEN DAN TENAGA KEPENDIDIKAN MEMBANGUN KELUARGA HARMONIS DAN MERAIH KEBAHAGIAAN DUNIA AKHIRAT

SORONG, 24 Oktober 2026 — Lembaga Pengembangan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPAIK) Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN) kembali menyelenggarakan kegiatan Kajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Kajian yang disampaikan oleh Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UNAMIN tersebut mengangkat berbagai pesan penting tentang peningkatan kualitas ibadah, pembinaan keluarga Islami, pentingnya rasa syukur, serta upaya meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Kegiatan diawali dengan membaca Surah Al-Kahfi ayat 1–12 secara bersama-sama. Pembacaan Al-Qur’an ini menjadi bagian dari pembiasaan spiritual bagi dosen dan tenaga kependidikan UNAMIN sekaligus sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. melalui interaksi dengan Al-Qur’an.

Menjaga Salat Duha dan Membiasakan Diri dengan Ibadah

Dalam kajiannya, Ketua BPH UNAMIN mengingatkan pentingnya menjaga salat Duha sebagai bentuk ikhtiar meningkatkan kedekatan kepada Allah Swt. Seluruh peserta diajak membiasakan diri melaksanakan salat Duha sesuai dengan kemampuan masing-masing, baik dua maupun empat rakaat.

Anjuran menjaga salat Duha sejalan dengan hadis sahih yang diriwayatkan oleh Abu Dzar r.a. Rasulullah saw. menjelaskan bahwa setiap persendian manusia memiliki kewajiban sedekah, dan dua rakaat salat Duha dapat mencukupi hal tersebut (HR. Muslim, no. 720).

Pesan ini menegaskan bahwa ibadah tidak selalu harus dimulai dengan amalan yang berat. Konsistensi dalam menjalankan amalan sederhana, disertai keikhlasan, merupakan bagian penting dalam membangun kualitas kehidupan spiritual seorang muslim.

Membangun Keluarga Islami melalui Kerja Sama Suami dan Istri

Salah satu pesan penting dalam kajian tersebut adalah pentingnya membangun kehidupan rumah tangga yang dilandasi kasih sayang, tanggung jawab, dan kerja sama. Ketua BPH mengingatkan bahwa suami hendaknya tidak menyerahkan seluruh pekerjaan rumah tangga kepada istri, tetapi turut membantu meringankan pekerjaan sehari-hari, seperti menyapu, membersihkan rumah, dan mengerjakan pekerjaan domestik lainnya.

Keteladanan ini dapat ditemukan dalam kehidupan Rasulullah saw. Ketika Aisyah r.a. ditanya mengenai aktivitas Rasulullah di rumah, ia menjelaskan bahwa beliau membantu pekerjaan keluarganya. Ketika waktu salat tiba, beliau bergegas menunaikan salat (HR. Bukhari, no. 6039).

Hadis tersebut memberikan pelajaran bahwa membantu keluarga bukanlah sesuatu yang mengurangi kehormatan seorang suami. Sebaliknya, sikap tersebut merupakan bentuk akhlak mulia dan keteladanan dalam kehidupan rumah tangga.

Allah Swt. juga berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 19:

“Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut.”

Ayat ini menegaskan pentingnya memperlakukan pasangan dengan baik. Oleh karena itu, pengelolaan rumah tangga hendaknya dilandasi komunikasi yang sehat, pembagian tanggung jawab yang adil, serta penghargaan terhadap kontribusi masing-masing pasangan.

Pekerjaan rumah tangga yang dilakukan dengan niat baik dapat menjadi bagian dari amal kebajikan. Karena itu, pasangan suami istri hendaknya saling menghargai, menghindari ucapan yang menyakiti, dan tidak meremehkan pengorbanan satu sama lain.

Menjaga Adab dan Batasan dalam Menerima Tamu

Ketua BPH juga mengingatkan pentingnya menjaga adab pergaulan dalam kehidupan rumah tangga, termasuk ketika menerima tamu yang bukan mahram.

Pesan ini sejalan dengan hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan dalam Sahih Muslim, no. 2172a, mengenai larangan berkhalwat atau berduaan secara tertutup dengan perempuan yang bukan mahram. Dalam hadis tersebut, Rasulullah saw. memberikan peringatan khusus tentang kerabat laki-laki dari pihak suami yang bukan mahram.

Prinsip yang perlu dipahami adalah bahwa seorang suami maupun istri hendaknya menjaga batasan interaksi dengan lawan jenis yang bukan mahram. Apabila menerima tamu dalam situasi yang berpotensi menimbulkan khalwat, perlu diupayakan kehadiran orang lain atau pengaturan tempat yang terbuka dan aman.

Dengan demikian, keharmonisan rumah tangga tidak hanya dibangun melalui pemenuhan kebutuhan material, tetapi juga melalui komitmen bersama dalam menjaga kehormatan, kepercayaan, dan nilai-nilai agama.

Tujuh Tanda Kebahagiaan Hidup yang Perlu Diupayakan

Dalam kajian tersebut, Ketua BPH mengajak peserta melakukan introspeksi terhadap sejumlah aspek kehidupan yang dapat menjadi jalan menuju kebahagiaan. Materi kajian merangkum tujuh hal penting yang perlu diupayakan oleh setiap muslim.

Pertama, memiliki hati yang pandai bersyukur.

Syukur merupakan sikap mengakui dan menghargai nikmat Allah Swt., baik berupa kesehatan, keluarga, pekerjaan, ilmu pengetahuan, maupun kesempatan berbuat baik.

Allah Swt. berfirman dalam Surah Saba ayat 13 bahwa hanya sedikit dari hamba-hamba-Nya yang bersyukur. Ayat ini menjadi pengingat agar manusia tidak mudah melupakan nikmat yang telah diterimanya.

Rasa syukur juga perlu diwujudkan melalui penghargaan terhadap kebaikan sesama manusia. Rasulullah saw. bersabda:

“Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada manusia.” (HR. Abu Dawud, no. 4811; diriwayatkan pula dalam kitab-kitab hadis lainnya).

Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya membiasakan diri berterima kasih kepada orang tua, pasangan, rekan kerja, sahabat, dan siapa pun yang telah memberikan kebaikan.

Kedua, memiliki pasangan yang saleh atau salehah.

Pasangan yang baik bukan hanya mereka yang tekun beribadah, tetapi juga yang menunjukkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Kesalehan perlu tercermin dalam kejujuran, tanggung jawab, kasih sayang, kesabaran, dan kemampuan menjaga amanah.

Keluarga yang dibangun di atas nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi tempat tumbuhnya ketenteraman dan saling menguatkan dalam kebaikan.

Ketiga, dikaruniai anak-anak yang saleh dan salehah.

Anak merupakan amanah Allah Swt. yang perlu dibina melalui pendidikan, keteladanan, kasih sayang, serta pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani.

Dalam Surah Al-Furqan ayat 74, Allah Swt. mengajarkan doa agar pasangan dan keturunan menjadi penyejuk hati serta teladan bagi orang-orang yang bertakwa.

Ketua BPH juga mengingatkan pentingnya memperhatikan kehalalan makanan dan minuman keluarga, termasuk selama masa kehamilan dan pertumbuhan anak. Orang tua perlu membiasakan lingkungan yang baik, memperdengarkan bacaan Al-Qur’an, serta memberikan pendidikan agama sejak dini.

Dalam membangun keluarga, Rasulullah saw. juga menganjurkan pernikahan dengan perempuan yang penyayang dan berpotensi memiliki keturunan, sebagaimana disebutkan dalam Sunan Abi Dawud, no. 2050, yang dinilai hasan sahih oleh Syekh Al-Albani.

Hadis tersebut perlu dipahami bersama prinsip saling menghormati, menjaga kesehatan, dan tidak menjadikan kemampuan memiliki keturunan sebagai ukuran tunggal kemuliaan seseorang.

Selain itu, Rasulullah saw. mengajarkan doa sebelum berhubungan suami istri, sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Al-Bukhari, no. 6388, dan Sahih Muslim, no. 1434.

Keempat, berada dalam lingkungan yang baik.

Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter dan kebiasaan seseorang. Karena itu, umat Islam dianjurkan mendekatkan diri kepada lingkungan yang mendukung ibadah, pendidikan, dan perbuatan baik.

Masjid menjadi salah satu tempat penting untuk membangun hubungan dengan Allah Swt., memperdalam ilmu, serta mempererat persaudaraan. Sementara itu, dalam menjalankan aktivitas ekonomi, setiap muslim perlu menjaga kejujuran dan menghindari perilaku yang merugikan orang lain.

Kelima, memiliki harta yang halal.

Harta yang halal merupakan bagian penting dalam membangun kehidupan keluarga yang baik. Umat Islam diingatkan agar mencari rezeki melalui cara yang dibenarkan agama, menghindari penipuan, tidak mengambil hak orang lain, serta menjauhi praktik yang mengandung kezaliman.

Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 168 agar manusia memakan rezeki yang halal dan baik.

Pesan ini relevan bagi seluruh warga kampus, baik dalam menjalankan pekerjaan, mengelola keuangan keluarga, maupun melaksanakan amanah institusi.

Keenam, memperdalam pengetahuan agama.

Menuntut ilmu agama membantu seorang muslim memahami tuntunan Al-Qur’an dan sunah serta menerapkannya secara tepat dalam kehidupan.

Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Mujadalah ayat 11 bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.

Bagi dosen dan tenaga kependidikan UNAMIN, penguatan pengetahuan agama diharapkan berjalan seiring dengan pengembangan profesionalisme, integritas, dan pelaksanaan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam lingkungan kerja.

Ketujuh, memperoleh umur yang berkah.

Umur yang berkah bukan semata-mata panjangnya usia, melainkan bertambahnya kebaikan yang dilakukan, meningkatnya manfaat bagi sesama, serta semakin kuatnya kedekatan kepada Allah Swt.

Rasulullah saw. bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya (HR. At-Tirmidzi, no. 2330).

Karena itu, setiap kesempatan hidup hendaknya digunakan untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, menunaikan tanggung jawab, dan memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, serta institusi.

Ketujuh hal tersebut disampaikan sebagai bahan refleksi dalam kajian. Adapun penyandaran daftar ini secara khusus kepada Ibnu Abbas perlu diverifikasi melalui sumber primer yang dapat dipertanggungjawabkan sebelum dikutip sebagai perkataan beliau.

Keutamaan Menghadiri Kajian dan Membaca Al-Qur’an di Masjid

Kajian AIK juga mengingatkan pentingnya memakmurkan masjid dengan kegiatan ibadah, membaca Al-Qur’an, dan menuntut ilmu.

Dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa sekelompok orang yang berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca dan mempelajari Kitabullah akan memperoleh empat keutamaan, yaitu:

  1. Ketenangan diturunkan kepada mereka.
  2. Rahmat Allah meliputi mereka.
  3. Para malaikat mengelilingi mereka.
  4. Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya.

Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih Muslim, no. 2699, dan juga dicantumkan dalam Riyadus Shalihin, no. 1023.

Keutamaan tersebut memberikan motivasi agar kegiatan membaca Al-Qur’an dan kajian agama terus dibudayakan di lingkungan UNAMIN. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan salat, tetapi juga sebagai pusat pembinaan spiritual, pendidikan, dan penguatan akhlak.

Dalam kaitannya dengan salat berjamaah, Rasulullah saw. memberikan perhatian besar terhadap kewajiban salat dan panggilan azan. Umat Islam yang memiliki kemampuan hendaknya berusaha memenuhi panggilan tersebut dan tidak meremehkan salat berjamaah tanpa alasan yang dibenarkan.

Mengajak Dosen dan Tenaga Kependidikan Melakukan Introspeksi Diri

Pada bagian akhir kajian, Ketua BPH UNAMIN mengajak seluruh dosen dan tenaga kependidikan untuk melakukan introspeksi terhadap kehidupan masing-masing.

Peserta diajak mengevaluasi sejauh mana rasa syukur telah diwujudkan, bagaimana kualitas hubungan dengan pasangan dan anak-anak, apakah harta yang diperoleh telah dijaga kehalalannya, serta sejauh mana ilmu agama diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Refleksi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi diterjemahkan menjadi perubahan perilaku yang nyata. Setiap warga kampus diharapkan semakin meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki akhlak, memperkuat tanggung jawab keluarga, serta menjaga amanah dalam pekerjaan.

Bagi UNAMIN, penguatan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan merupakan bagian penting dalam membangun budaya kampus yang religius, humanis, berintegritas, dan berkemajuan.

Penutup dengan Tadabur Surah Al-Baqarah Ayat 38–40

Kegiatan kajian ditutup dengan pembacaan Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 38–40 yang dipandu oleh ustaz. Ayat-ayat tersebut mengingatkan manusia tentang petunjuk Allah, pentingnya mengikuti petunjuk-Nya, serta kewajiban untuk mengingat nikmat dan memenuhi perjanjian dengan Allah Swt.

Surah Al-Baqarah ayat 38 menegaskan bahwa siapa pun yang mengikuti petunjuk Allah tidak perlu merasa takut dan tidak pula bersedih. Ayat 39 mengingatkan tentang konsekuensi bagi orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, sedangkan ayat 40 menyeru Bani Israil agar mengingat nikmat Allah dan memenuhi janji kepada-Nya.

Penutupan ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan hidup tidak dapat dilepaskan dari kesediaan manusia untuk mengikuti petunjuk Allah, menjaga amanah, dan memperbaiki amal.

Melalui kegiatan Kajian AIK yang dilaksanakan secara berkelanjutan, UNAMIN diharapkan semakin memperkuat budaya membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu, menjaga ibadah, serta mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan pekerjaan.